Author: Ivan Kavalera
Dari Kampung Sebelah
dari kampung sebelah katanya
kami bertanya setelah melihat mereka melata.
perempuan-perempuan tanpa alas kaki,
kesuburan jiwanya turun temurun
melingkari bukit-bukit kesetiaan sambil menjunjung padi
dari kampung sebelah
anak-anak mereka menekuni puisi di huma-huma
gadis-gadis melukis bulan di atas jerami.
listrik belum masuk katanya.
listrik belum masuk katanya.
berabad-abad lelaki-lelaki mereka berkaki hitam legam
dan terpaksa memahat batu di ujung sungai.
tidak perlu merisaukan kasus century dan indonesia
sebab di sini tak ada koran dan televisi
di kampung sebelah
di kampung sebelah
hanya memerlukan sedikit waktu saja
untuk menyalakan pelita di setiap senja.
lalu ronda akan dimulai dari ladang jagung.
pada pagi yang lebih bersahabat
kami tak mau kembali ke kota.
bulukumba, 30 januari 2010
Maret 10th, 2010 at 01:06
Terimakasih buat siapa saja yang kebetulan telah terdampar di sini. Ini adalah salah satu pulau terpencil bagi saya untuk bersemedi.
Maret 10th, 2010 at 01:23
memulai komentar sebagai yang pertama
Maret 10th, 2010 at 01:24
selamat ya Van atas launching WPnya wah langsung berbayar lagi
April 3rd, 2010 at 13:39
[...] is proudly powered by WordPress MU running on dagdigdug.com. Create a new blog and join in the …| sastra-pinggirDari Kampung Sebelah dari kampung sebelah katanya kami bertanya setelah melihat mereka melata. [...]